fadhilah
tiba-tiba mata ini menemukan dia, matanya berkaca-kaca dan seperti biasa dia sedang meratapi nasibnya. sahabat seperti dia tak mungkin pernah kubiarkan bersedih seperti ini. sejuta kata sabar telah terluapkan untuknya, tp ini bukan tentang teori belaka, melainkan ini karena sebuah perasaan yang terabaikan.   setiap hari dia harus melihat sahabat2nya yang dulu bersama-sama tanpanya. sepertinya mereka  sangat bahagia , bercanda tawa, belajar bersama, mencurahkan semuanya bersama-sama tanpa sosok sahabatku.

dulu dia sempat menjadi bagian dari mereka, tapi setelah jarak tumbuh dalam kehidupan yang baru  semuanya berubah. semuanya seakan menganggap keberadaannya di telan oleh samudra. ketika air matanya mengalir deras tak ada lagi yang menghapusnya, tak ada lagi yang perduli dengannya

saya tidak tahu dia hanya dikuasai oleh perasaan yang negatif saja atau mungkin ini memang benar. sebelumnya mereka bilang semua akan baik2 saja, tak akan ada yang berpsah. tapi sekali lagi omongan kosong harus dia terima dari bibir2 mereka.,

setiap hari dia mencari kesibukan semakin dia nampak seperti orang idiot, bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya
setiap hari harus terabaikan, setiap hari jarak itu semakin terasa baginya.
dia harus berkata apa? bibirnya dikunci oleh sikap mereka semua,  saya dan dia tahu ini semua karena jarak. tapi apakah hanya karena jarak persahabatan yang sangat indah dulunya harus musnah begitu saja?
 
Untukmu, sahabatku.
0 Responses

Posting Komentar